Keyakinan yang Keliru dalam Bisnis

Keyakinan, atau yang dalam bahasa Inggrisnya disebut belief, adalah sebuah konsep yang kita yakini kebenarannya. Pikiran kita membentuk berbagai keyakinan secara otomatis berdasarkan pola-pola dari pengalaman sehari-hari yang kita terima. Melalui berbagai proses dan filterisasi di benak kita, seperti delesi (menghilangkan), distorsi (memutarbalikan/, dan generalisasi (menyamaratakan), maka berbagai pola yang masuk akan membentuk seperangkat keyakingan yang secara bawah sadar mengendalikan berbagai keputusan dan tindakan kita ke depannya.

Dalam berbagai konteks kehidupan, akan selalu ada seperangkat keyakinan tertanam di benak kita. Misal dalam konteks spiritualitas, keluarga, karir, bisnis, dan lain-lain.

Seringkali, berbagai keyakinan yang tertanam di benak kita tidak sepenuhnya akurat. Hal ini disebabkan adanya berbagai proses filterisasi di atas, lagi pula pengetahuan dan pengalaman kita pun terbatas. Bahkan, hampir seluruh keyakinan yang kita miliki bukanlah fakta. Mereka hanya sekedar keyakinan, yang kita anggap benar walaupun belum atau tidak ada data dan fakta yang mendukungnya.

Pada dasarnya, berbagai keyakinan tersebut bersifat netral adanya. Tidak ada yang benar atau salah. Lebih baik meninjaunya dari apakah keyakinan tersebut efektif atau tidak untuk mencapai berbagai tujuan hidup kita. Bila efektif, silahkan kita pertahankan. Bila tidak, buat apa diyakini terus? Keyakinan yang menghambat untuk mengejar berbagai impian kita biasa disebut limiting beliefs. Keyakingan tersebut sebetulnya bisa kok diganti. Caranya bagaimana? Salah satu cara yang mudah adalah dengan memperluas pengetahuan dan pengalaman kita. Dengan belajar, berbagai keyakinan kita akan semakin akurat sejalan dengan semakin luasnya pengetahuan dan pengalaman yang kita dapat dari banyak orang sepanjang kehidupan mereka.

Bila kita bicara dalam konteks bisnis, ada berbagai limiting beliefs yang biasanya ada di pikiran para pemula dalam berbisnis. Berikut adalah beberapa di antaranya yang paling sering menghambat mereka, dan disertai juga padanan keyakinan yang lebih akurat yang akan membantu para pemula menjalankan bisnis pertama mereka:

  1. Memulai sebuah bisnis itu penuh resiko. Ini adalah keyakinan yang paling banyak menghambat banyak orang untuk berbisnis. Dan keyakinan inilah yang paling bertanggung jawab ketika mereka merasa ragu atau menunda-nunda. Sebetulnya, ketidakpastian itu selalu ada dalam berbagai segi kehidupan. Dalam bisnis, ketidakpastian pun dapat dikelola, dan berbagai resikonya dapat diminimalisir. Pernyataan tadi tentunya jauh lebih memberdayakan bukan?
  2. Supaya bisnis kita sukses, kita harus membuat business plan yang sesempurna mungkin. Karena kita ingin sempurna di awal, maka kita pun membuat business plan yang sangat tebal dengan berbagai macam perhitungan dan analisa. Tahukah Anda? Justru hal itu akan membuat kita semakin lumpuh dan bingung. Menulis sebuah business plan memang penting, dan jauh lebih penting bila kita lebih fokus pada memahami elemen-elemen penting dari bisnis kita. Tidak peduli seberapa besar persiapan kita, akan selalu ada kejutan dan perubahan dalam perjalanan melaksanakannya. Untuk itu, segera tulisnya business plan kita dari apa yang kita pahami sejak awal, lalu perbaikilah saat kita melaksanakannya tanpa harus menunggu sampai sempurna.
  3. Memulai sebuah bisnis selalu butuh modal yang besar. Ini juga merupakan keyakinan yang tidak akurat. Modal bukanlah satu-satunya yang dibutuhkan dalam memulai bisnis. Banyak Pemilik Bisnis berhasil yang tidak diawali dengan modal yang besar. Modal mereka dapatkan secara bertahap sejalan dengan pertumbuhan bisnis mereka. Uang yang sangat besar hanya dibutuhkan ketika kita memang tidak bisa melakukan sesuatu tanpanya, misal membangun pabrik, membeli mesin-mesin produksi sekaligus, dll.
  4. Dalam berbisnis, memiliki jaringan koneksi yang luas itu hal yang utama. Saya mengenal seorang pengusaha yang berhasil di usia muda, bahkan di saat usianya belum mencapai 35 tahun. Beliau memulai bisnis dengan tanpa memiliki jaringan atau koneksi siapa pun. Karena dia anak rantau datang dari desa terpencil ke Jakarta untuk mengubah nasib. Maka, jaringan dan koneksi itu memang penting, dan pengetahuan adalah kunci utamanya agar kita mampu memanfaatkan jaringan dan koneksi sebesar-besarnya.

Di awal sudah dijelaskan bahwa langkah mudah menghilangkan limiting belief dan menggantinya dengan belief yang lebih efektif adalah dengan cara memperluas pengetahuan dan pengalaman kita. Dengan banyak belajar, baik itu dari buku, seminar, pendampingan bisnis, dan lain-lain, merintis usaha pertama kita akan menjadi lebih mudah daripada yang awalnya kita bayangkan. Daripada membuang banyak waktu dan tenaga dengan diliputi rasa khawatir dan ragu, dengan banyak belajar akan membuat kita bebas dari rasa takut dan mulai membuat kemajuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *